Oleh Partika Dhimas P., S.Psi., M.Psi., Psikolog
Banyak orangtua seringkali melakukan perilaku berulang pada anak yang tidak mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Bentuk kekesalan yang sering dilakukan adalah dengan mengumpat atau memaki anak dengan sebutan "Bodoh, Goblok, Nggak Guna". Bahkan tidak jarang hukuman fisik sebagai alternatif lain dalam ungkapan kekesalan orangtua.
Fenomena seperti ini hampir terjadi di seluruh masyarakat Indonesia. Kurangnya pengetahuan orangtua dan minimnya fasilitas pendidikan menjadi salah satu alasan hal tersebut. Kesulitan anak dalam memahami beberapa matapelajaran di sekolah, belum tentu karena anak tidak mampu mengerjakan tugas-tugas tersebut dengan baik. Ada beberapa faktor didalam anak atau diluar anak yang perlu diperhatikan orangtua. Perlu kesadaran dan kecermatan orangtua, guru atau orang terdekat anak dalam mengidentifikasi gangguan atau kesulitan belajar tersebut.
Kenali Gangguan Belajar & Kesulitan Belajar
Sebelum membahas lebih jauh Gangguan Belajar & Kesulitan Belajar, perlu untuk kita mengetahui perbedaan mendasar Gangguan Belajar dan Kesulitan Belajar. Gangguan Belajar atau disebut dengan learning disabilities, lebih disebabkan adanya gangguan neurologis (otak) yang menyebabkan adanya gangguan-gangguan perkembangan dalam satu atau lebih area intelegensi. Kesulitan Belajar atau disebut dengan learning difficulties disebabkan oleh dua hal yang umum pertama karena lingkungan anak kedua dari dalam diri anak tersebut.
Penggunaan Istilah Learning Disabilities dan Learning Difficulties
Penggunaan istilah membantu identifikasi tingkat keparahan dalam kondisi anak. Sekaligus pendekatan yang digunakan secara tepat. Penggunaan istilah Learning Disabilities hanya dapat digunakan untuk anak yang memiliki intelegensi normal hingga tinggi, atau IQ seharusnya berjumlah 85 keatas. Bagi anak yang kesulitan menghadapi proses pembelajaran tidak dapat disebut Learning Disabilities, namun disebut sebagai tuna-ganda. Sedangkan istilah Learning Difficulties digunakan pada anak yang memiliki keterbatasan dari syaraf pusat, disertai dengan gangguan penyerta lainnya.
Kesulitan yang ditemui Anak dengan Learning Difficulties
Lingkungan anak seperti keluarga, sekolah, lingkungan, dan budaya. Sering menjadi penghambat anak. Contoh anak yang tinggal di lingkungan pada penduduk akan mengalami kesulitan saat ingin fokus dalam belajar. Contoh lain pada anak yang memiliki gaya belajar VISUAL (belajar melalui media gambar bergerak) hanya difasilitasi oleh papan tulis dan ditulus secara konvensional.
Adanya gangguan dalam diri anak, karena adanya cacat indera, gangguan motorik, gangguan perkembangan emosi, intelegensia yang rendah dan lain sebagainya.Contoh anak yang memiliki gangguan perkembangan tentunya sangat menyulitkan dirinya memahami pelajaran.
Apa yang harus dilakukan?
Hal yang dapat dilakukan orangtua menghadapi anak dengan gangguan belajar.
- Tetap tenang, hargai kelebihan anak dan juga kekurangannya.
- Tidak melakukan perbandingan antara anak pertama, kedua dan seterusnya.
- Kenali gaya belajar anak yang cenderung ke Kinestetik, visual, atau audiotorik.
- Jangan ragu untuk memeriksakan anak ke Dokter Anak, atau ke Psikolog anak untuk mengetahui potensi kecerdasan dan kesehatan mental anak.
- Ada 8 tipe kecerdasan, kedelapan tipe kecerdasan tersebut sangat berbeda pada setiap anak.
- Apabila diperlukan, fasilitasi anak dengan bahan belajar dan pendamping anak yang mampu menyesuaikan proses belajar anak.
- Bergabung pada komunitas yang sesuai dengan karakteristik anak.
