Konsultasi Gratis
Home / Articles / Apakah Anak Saya Menderita Kelainan?

Apakah Anak Saya Menderita Kelainan?

Parenting & Gangguan Anak

Parenting & Gangguan Anak πŸ—“ 27 September 2018⏱ 3 menit bacaπŸ‘ 1x dibaca

Oleh Laksmi Widjajanti, S.Psi., CHCS., Psikolog

Apakah Anak Saya Menderita Kelainan?

Seorang ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) seringkali tidak bisa menerima keberadaan anaknya. Biasanya mereka mempertanyakan kondisi anaknya berulang kali untuk menyakinkan bahwa sebenarnya anak mereka baik-baik saja. Begitu pula dengan ibu yang datang pada kami. Anaknya, laki-laki, berusia 4 tahun, didiagnosa speech delay (keterlambatan bicara) dan autis.

Sekilas tampaknya anak tersebut tidak mengalami gangguan perkembangan. Ia kooperatif dan bisa memahami instruksi dengan baik. Tapi ia tidak mau berbicara dan selalu memegang telinganya seolah sekitarnya β€˜berisik’. Orangtuanya sudah mengajak anaknya mendatangi beberapa psikolog untuk menanyakan sebenarnya apa yang terjadi pada anaknya, orangtuanya tidak bisa menerima keberadaan anaknya dan selama itu pula tidak ada perkembangan yang signifikan yang terjadi. Setelah datang kepada kami dan dijelaskan kondisi anaknya, kemudian menjalani terapi selama kurang lebih enam bulan, anak mulai bisa berbicara pada orang-orang yang sudah dikenalnya.

Setiap anak memiliki aspek-aspek perkembangan yaitu motorik (kasar dan halus), emosi, sosial dan bahasa. Keseluruhan aspek perkembangan tersebut harus terpenuhi dengan baik, bila tidak maka anak dikatakan mengalami gangguan perkembangan. Beberapa jenis gangguan perkembangan adalah Cerebral Palsy (CP), Autisme, Attention Defisit Hyperactive Disorder (ADHD), Dislexia, Down Syndrome, dan Gangguan Intelegensi (Intelligentia Disorder).

Berdasarkan hasil penelitian terbaru, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan gangguan perkembangan yaitu :

  • Keturunan (herediter)
  • Asupan makanan ibu selama masa kehamilan
  • Proses kelahiran bayi
  • Paparan gadget sejak sebelum usia 2 tahun.

Terhadap faktor keempat, sampai saat ini masih menjadi bahan penelitian dan hampir sebagian besar orangtua tidak menyadari dampaknya. Suatu pemandangan umum seorang balita sudah memegang gadget sementara orangtua sibuk beraktivitas. Padahal paparan gadget yaitu warna, cahaya, gerakan, suara, gambar yang bergerak cepat berpotensi membuat perkembangan neurotransmeter pada sel-sel saraf balita juga cenderung bergerak cepat. Hal ini ditengarai dapat menyebabkan gangguan ADHD. Asupan makanan ibu hamil yang tidak terpenuhi gizinya atau ibu hamil yang menggunakan obat-obat terlarang, mengkonsumsi minuman keras, serta merokok bisa menyebabkan pertumbuhan sel-sel saraf janin tidak berkembang optimal.

Pengamatan dari orangtua bisa dimulai sejak usia 6 bulan bila anak dalam bergerak miring, tengkurap tidak sesuai usia pada umumnya, usia 1,5 tahun untuk deteksi autisme, dan sekitar 4-5 tahun deteksi untuk ADHD. Gangguan perkembangan lainnya adalah dislexia (gangguan baca tulis) mulai dapat diamati kemunculannya saat anak berusia 5 tahun. Pada tahap awal, deteksi dini terhadap anak yang mengalami gangguan perkembangan bisa dilakukan oleh orangtua. Bilamana ada tanda-tanda berikut ini pada usia 1 tahun atau lebih : 1) Cara bicara meracau, 2) Tidak bisa lancar berbicara, 3) Menunjuk sesuatu tanpa tujuan, 4) Tidak bisa fokus bila diajak bicara, dan 5) Pandangan matanya tidak terarah, maka orangtua sebaiknya membawa anak pada psikolog. Observasi dilakukan selama 6 bulan untuk menentukan diagnosa yang tepat pada anak karena berbagai jenis gangguan perkembangan memiliki gejala yang hampir sama.

Selama masa observasi tersebut, anak akan diberikan terapi dasar. Jenis terapi yang umum digunakan adalah okupasi terapi dan sensory integration. Pada terapi okupasi, anak dilatih untuk mengoptimalkan aspek perkembangan psikomotoriknya dengan cara memberikan tugas untuk dikerjakan. Misalnya memasang kancing, manik-manik, dan sebagainya. Sedangkan terapi integrasi sensori ditujukan melatih keseimbangan anak. Bentuk kegiatannya bervariasi antara lain bermain lempar tangkap bola, meniti papan titian. dan sebagainya. Penanganan lebih lanjut psikolog akan bekerja sama dengan dokter tumbuh kembang anak ataupun dokter anak dengan keahlian syaraf anak, sebab anak-anak dengan gangguan perkembangan kadang juga membutuhkan terapi obat (farmakoterapi). Kunci keberhasilan terapi terhadap ABK terletak pada ketekunan dan keterlibatan orangtua. Semakin tekun orangtua membawa anaknya menjalani terapi, semakin baik tingkat kemajuan anak. Begitu pula dengan keterlibatan orangtua. Bila orangtua bersedia melakukan tugas terapi di rumah bersama anak, semakin cepat perubahan yang terjadi. Dukungan lingkungan sosial lainnya turut mempengaruhi, misalnya memilih sekolah yang tepat, guru-guru yang memahami, dan teman-teman yang dapat menerima mereka dengan baik.

#gangguan anak#kelainan#orang tua#parenting
Bagikan: WhatsApp Facebook

Siap memulai perjalanan bersama kami?

Diskusikan kebutuhan individu maupun organisasi Anda bersama tim metaPROGRESS.

Hubungi Kami
πŸ’¬