Konsultasi Gratis
Home / Articles / Mengajarkan Disiplin dan Sopan Santun

Mengajarkan Disiplin dan Sopan Santun

Parenting & Gangguan Anak

Parenting & Gangguan Anak 🗓 28 September 2018⏱ 3 menit baca👁 1x dibaca

Oleh Laksmi Widjajanti, S.Psi., CHCS., Psikolog

Mengajarkan Disiplin dan Sopan Santun

Respon kasar anak atau masalah tata krama anak kadang mencemaskan orang tua, tetapi orang tua sering mendapat informasi bahwa tidak perlu mencemaskannya karena begitulah cara anak masa kini mengekspresikan dirinya Sebenarnya hal itu tidak mutlak kebenarannya, karena sebagai orang tua kita seharusnya menanggapi masalah tata krama ini dengan sebaik mungkin segera setelah terjadi tata krama yang tidak seharusnya.

Perkembangan Kepribadian

Sebenarnya perkembangan moral anak dimulai sejak anak berusia 3 tahun, menurut Freud karena pada umur tersebut mulai muncul ke ‘aku’an pada individu. Dasar dari pandangan Freud terhadap perkembangan kepribadian anak adalah adanya ID, EGO, dan SUPER EGO. ID merupakan faktor ketidaksadaran , yaitu tempat kenyamanan dan semua keinginan manusia, seperti lapar, haus, libido, marah, dll. Sebagai contoh, peningkatan rasa lapar atau haus harus menghasilkan upaya segera untuk makan atau minum. ID ini sangat penting pada awal hidup seorang bayi, karena itu memastikan bahwa kebutuhan bayi terpenuhi. Jika bayi lapar atau tidak nyaman, ia akan menangis sampai tuntutan ID terpenuhi.

ID ini merupakan dorongan dasar manusia yang tidak disadari oleh karenanya harus dilatih, contoh pemenuhan ASI seorang bayi diawal diberikan 2 jam sekali semakin lama semakin bertambah menjadi 4 jam dan seterusnya, ini merupakan contoh latihan. EGO adalah faktor kesadaran, tempat pengendalian dorongan dari ID, ego berkembang dari ID dan memastikan bahwa dorongan dari ID dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah SUPEREGO. SUPEREGO adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat – rasa benar dan salah, baik-buruk, malu, toleransi , dan seterusnya. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian. Ketiga faktor ini saling berhubungan dalam pembentukan kepribadian. Oleh karenanya penggunaan faktor ini harus dilatih dan yang pertama dan utama melatih kepribadian adalah keluarga. Sehubungan dengan perilaku kasar tanpa tata krama dapat mengacaukan kesempatan seseorang untuk mendapatkan kehidupan yang bahagia dan produktif. Seseorang yang dibiarkan berperilaku kasar di rumah maka akan bersikap sama di luar rumah. Akibatnya tidak akan dihargai oleh teman-teman dan lingkungannya.

Disiplin

Disiplin adalah memberikan ketrampilan berperilaku baik sesuai tempat, waktu dan situasinya. Dengan demikian anak akan dicintai, dihargai dan bahagia. Proses mendisiplinkan adalah malatih ketrampilan sehingga yang dibutuhkan adalah ‘proses mengajari’ bukan ‘proses mengajar’. Proses mendisiplinkan adalah mengajari anak agar terampil untuk mengembangkan dan menggunakan kendali diri dan pertimbangan yang baik, agar perilakunya dapat diterima dimanapun ia berada.

Mengapa Muncul Sikap Kasar Pada Anak?

  • Mencari cara untuk ‘ dianggap’, untuk menunjukkan dirinya berarti.

Orang tua terkadang tidak sengaja mencontohkan berbicara kasar di depan anak, ketika Berbicara dengan suami/isteri atau anggota keluarga yang lain. Atau menggunakan pernyataan-pernyataan yang kasar dalam upaya mengendalikan perilaku anak, misalnya: "hai koq kamu nakal ya"

  • Media masa, televisi, film, video game, dll. Juga menyumbang terjadinya perilaku kasar tersebut.

4 Langkah Untuk Mengatasi Ketidaksopanan Anak

  • Kenali sikap membangkang lakukan uji coba, jika pernyataan atau perilaku itu melukai anda, mempermalukan anda dan membuat anda merasa tidak berdaya…..itulah sikap membangkang.
  • Memilih konsekuensi yang tepat untuk perilaku kasar tersebut. Sebaiknya kemukakan sebelum terjadi peristiwa itu/ada aturan yang ditegakkan dalam keluarga.
  • Memberlakukan konsekuensinya dengan suara yang tenang. Dan bila anak berperilaku buruk menerima konsekuensi itu maka harus dilanjutkan pada langkah 4.

Melepaskan diri dengan pergumulan dengan pelaku/anak. Hendaknya orangtua mengabaikan perilaku tersebut , salah satunya dengan cara menunggu anak disebelahnya sampai anak tenang tanpa melakukan apa-apa, tetapi peraturan tetap ditegakkan.

Semoga bermanfaat dan dapat menambah referensi dalam pengasuhan anak, Ayah dan Bunda!

#autism#disiplin#kepribadian#parenting#polaasuh
Bagikan: WhatsApp Facebook

Siap memulai perjalanan bersama kami?

Diskusikan kebutuhan individu maupun organisasi Anda bersama tim metaPROGRESS.

Hubungi Kami
💬